http://148.230.97.38/index.php/jhas/issue/feed Journal of Health Analysis Student (JHAS) 2026-04-10T10:54:17+07:00 Soraya jurnal.jhas@gmail.com Open Journal Systems <pre><strong>Journal of Health Analysis Student (JHAS)</strong> Publisher : Politeknik Piksi Ganesha<br>Journal Abbrev : JHAS<br>Frequency : 2 issues per year<br>Print ISSN : - (Proses)<br>Online ISSN : - (Proses)<br>Editor-in-chief : Andini Kusdiantini, S.Si., M.Si.<br>Managing Editor : Yayang Ayu Nuraeni, S.Kep., Ners., M.M<br>Editor Board : M. Ali Yunasri, S.ST., M.Mkes<br> Nidia Permata Putri, S.Tr.Keb., M.M<br> drg. Nina Narjati Soejoto, M.PH <br>Citation analysis : Google Scholar<br>Journal Scope : Click here</pre> http://148.230.97.38/index.php/jhas/article/view/2550 PERBANDINGAN NILAI LEUKOSIT PADA SAMPEL DARAH SEGAR DAN YANG DISIMPAN SELAMA 3 JAM MENGGUNAKAN HEMATOLOGY ANALYZER 2026-01-29T13:13:10+07:00 Nadya Septi Rosiani Nadyasepti31@gmail.com Andini Kusdianti Nadyasepti31@gmail.com <p style="text-align: justify;"><span lang="IN">Leukosit merupakan komponen esensial dalam sistem imun yang berperan dalam melindungi tubuh dari infeksi dan agen patogen. Stabilitas jumlah leukosit dalam sampel darah sangat penting untuk menjamin validitas hasil pemeriksaan laboratorium, terutama ketika terjadi penundaan waktu pemeriksaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan jumlah leukosit antara darah segar dan darah yang disimpan selama 3 jam pada suhu ruang, dengan menggunakan alat <em>Hematology Analyzer</em>. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif eksperimental dengan desain <em>one group pretest-posttest</em>. Sebanyak 30 sampel darah vena dianalisis segera setelah pengambilan (pretest) dan kembali setelah disimpan selama 3 jam (posttest). Data dianalisis menggunakan uji <em>Shapiro-Wilk</em> untuk uji normalitas dan uji <em>Paired Sample T-Test</em> untuk mengetahui signifikansi perbedaan. Hasil menunjukkan nilai p = 0,667 (p &gt; 0,05), menandakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah leukosit pada kedua kondisi. Temuan ini menunjukkan bahwa penyimpanan darah selama 3 jam pada suhu ruang tidak memengaruhi stabilitas jumlah leukosit secara bermakna. Implikasi dari hasil ini menunjukkan bahwa pemeriksaan leukosit masih dapat dilakukan hingga 3 jam setelah pengambilan sampel tanpa menurunkan keakuratan hasil laboratorium.</span></p> 2026-01-29T05:27:04+07:00 Copyright (c) 2025 Journal of Health Analysis Student (JHAS) http://148.230.97.38/index.php/jhas/article/view/2551 GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN GULA DARAH MENGGUNAKAN ALAT POCT DAN CHEMISTRY ANALYZER 2026-01-29T13:13:16+07:00 Agus Sudrajat manlab25@gmail.com Solehudin Syahrul solehudinsyahrul234@gmail.com <p>Pemeriksaan kadar glukosa darah merupakan prosedur penting dalam diagnosis dan pemantauan diabetes mellitus. Di Indonesia, alat Point of Care Testing (POCT) banyak digunakan karena kepraktisannya, sementara Chemistry Analyzer dianggap lebih akurat. Namun, sering dijumpai perbedaan hasil antara kedua metode tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pemeriksaan kadar glukosa darah menggunakan alat POCT dan Chemistry Analyzer (MS-480), serta mengevaluasi apakah terdapat perbedaan bermakna secara statistik di antara keduanya. Penelitian observasional-analitik ini dilakukan di RSAU dr. M. Salamun pada April–Juni 2025, melibatkan 30 responden. Pemeriksaan glukosa darah dilakukan menggunakan alat Accu-Chek Active (POCT) dan MS-480 (Chemistry Analyzer). Data dianalisis secara deskriptif dan diuji menggunakan uji t. Rata-rata kadar glukosa darah menggunakan POCT adalah 131,4 mg/dL dan dengan MS-480 adalah 133,6 mg/dL. Hasil uji t menunjukkan nilai t hitung sebesar 1,09, yang lebih kecil dari t tabel pada α = 0,05, sehingga tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua metode. Tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik antara hasil pemeriksaan glukosa darah menggunakan POCT dan Chemistry Analyzer. POCT dapat digunakan sebagai alat skrining awal, namun konfirmasi diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan laboratorium dengan alat standar.</p> 2026-01-29T05:31:53+07:00 Copyright (c) 2025 Journal of Health Analysis Student (JHAS) http://148.230.97.38/index.php/jhas/article/view/2552 EVALUASI KADAR HEMOGLOBIN PASIEN DEWASA RAWAT JALAN BERDASARKAN PEMERIKSAAN OTOMATIS DI RS X TAHUN 2025 2026-01-29T13:13:23+07:00 Sudirman A Anwar sudirmananwar@gmail.com Agus Sudrajat manlab25@gmail.com <p>Hemoglobin merupakan parameter penting dalam evaluasi hematologi, terutama dalam mendeteksi anemia pada populasi rawat jalan. Pemeriksaan otomatis kini digunakan secara luas di laboratorium klinik karena akurasinya yang tinggi dan efisiensi waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kadar Hb pasien dewasa rawat jalan berdasarkan hasil pemeriksaan otomatis dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berkorelasi dengan kadar hemoglobin, khususnya indeks massa tubuh, usia, jenis kelamin, dan status gizi. Desain penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Sampel terdiri dari 30 pasien dewasa rawat jalan di RS X yang menjalani pemeriksaan Hb otomatis selama April–Mei 2025. Data dianalisis menggunakan uji deskriptif, uji normalitas <em>Kolmogorov-Smirnov</em>, serta uji nonparametrik <em>Mann-Whitney</em>, <em>Kruskal-Wallis</em>, dan korelasi Spearman. Sebanyak 80% responden memiliki kadar Hb di bawah normal (&lt;13 g/dL), dengan rerata Hb 11,54 g/dL. Tidak ditemukan perbedaan signifikan kadar Hb berdasarkan jenis kelamin (p = 0,633), usia (p = 0,465), maupun status gizi (p = 0,207). Namun, terdapat korelasi positif yang signifikan antara kadar Hb dan Indeks Massa Tubuh (r = 0,528; p = 0,003), yang menunjukkan bahwa Indeks Massa Tubuh lebih tinggi cenderung diikuti oleh kadar Hb yang lebih tinggi. Status gizi yang tercermin dari Indeks Massa Tubuh berasosiasi signifikan dengan kadar hemoglobin, meskipun variabel demografis seperti usia dan jenis kelamin tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Pemantauan status gizi penting untuk skrining anemia, dan alat hematologi otomatis terbukti efektif dalam deteksi dini gangguan hematologis pada populasi rawat jalan.</p> 2026-01-29T05:35:49+07:00 Copyright (c) 2025 Journal of Health Analysis Student (JHAS) http://148.230.97.38/index.php/jhas/article/view/2553 ANALISIS PENGARUH AKTIVITAS SEHARI-HARI STAF CSSD TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH 2026-01-29T13:13:30+07:00 Sinta Nopianti sintanopiantixii.01@gmail.com Andini Kusdiantini andin.oktasmile@gmail.com <h3><strong>Glukosa darah merupakan</strong> <strong>molekul sederhana dari karbohidrat yang </strong><strong>meny</strong><strong>e</strong><strong>b</strong><strong>ar </strong><strong>melalui sirkulasi darah untuk kemudian dimanfaatkan oleh sel-sel tubuh. </strong>Kadar glukosa darah dapat mengalami perubahan yang disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya dengan melakukan aktivitas fisik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan aktivitas sehari-hari staf CSSD terhadap kadar glukosa darah. Desain penelitian yang digunakan adalah&nbsp;<em>cross-sectional</em>&nbsp;dengan pendekatan observasional analitik serta menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Data diperoleh dari 60 sampel darah kapiler yang dianalisis memakai alat&nbsp;<em>point of care testing</em>&nbsp;(POCT).<strong>Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji <em>Paired t-test</em>. Berdasarkan hasil uji <em>Paired t-test</em> didapatkan nilai signifikan yaitu 0,000 yang menunjukan adanya </strong>penurunan kadar glukosa darah setelah melakukan aktivitas sehari-hari pada staf CSSD. Namun diperlukan penambahan variabel batas waktu terakhir makan responden untuk lebih memperjelas jumlah berkurangnya kadar glukosa dalam aliran darah.</h3> 2026-01-29T05:50:35+07:00 Copyright (c) 2025 Journal of Health Analysis Student (JHAS) http://148.230.97.38/index.php/jhas/article/view/2555 PERBANDINGAN KADAR GLUKOSA DARAH PUASA DENGAN POST PRANDIAL SEBELUM DAN SESUDAH KONSUMSI MINUMAN MANIS PADA DEWASA 2026-02-25T05:35:37+07:00 Candra Mecca Sufyana candra86mecca@gmail.com Lathisya Lilyana Nur Shabirah candra86mecca@gmail.com Andini Kusdiantini andin.oktasmile@gmail.com <p>Minuman manis dengan kandungan gula tinggi banyak dikonsumsi masyarakat karena harga yang terjangkau dan ketersediaannya yang mudah. Konsumsi berlebih dapat meningkatkan kadar glukosa darah dan berisiko menimbulkan penyakit metabolik seperti Diabetes Mellitus. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan kadar glukosa darah puasa dengan kadar glukosa darah post prandial sebelum dan sesudah konsumsi minuman manis pada orang dewasa. Sebanyak 30 responden dengan total 60 sampel diperiksa menggunakan metode POCT<em> (Point of Care Testing)</em>. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan kadar glukosa darah sebelum dan sesudah konsumsi minuman manis, baik pada kondisi puasa maupun post prandial (p &lt; 0,05). Temuan ini menegaskan bahwa minuman manis berpengaruh terhadap peningkatan kadar glukosa darah pada orang dewasa. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan pemeriksaan GDS dan GDP pada orang yang konsumsi beragam jenis tingkatan minuman manis.</p> 2026-01-29T06:20:27+07:00 Copyright (c) 2025 Journal of Health Analysis Student (JHAS) http://148.230.97.38/index.php/jhas/article/view/2556 GAMBARAN KADAR HEMATOKRIT PADA PASIEN DBD di RUMAH SAKIT HERMINA ARCAMANIK 2026-01-29T13:13:47+07:00 Milda Wiguna meldawiguna36@gmail.com Andini Kusdiantini andin.oktasmile@gmail.com <p>Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi virus yang dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk hemokonsentrasi akibat kebocoran plasma. Salah satu indikator laboratorium penting dalam pemantauan kondisi pasien DBD adalah kadar hematokrit. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kadar hematokrit pada pasien DBD yang dirawat di Rumah Sakit Hermina Arcamanik. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh secara retrospektif dari rekam medis 30 pasien DBD positif yang dirawat pada periode Maret–Mei 2025, dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Rata-rata kadar hematokrit pasien adalah 38,8 g/dL, dengan sebagian besar pasien berada dalam kategori sedang (53,3%) dan tinggi (43,3%). Hanya satu pasien (3,3%) memiliki kadar hematokrit rendah. Mayoritas pasien berasal dari kelompok usia muda, dengan rata-rata umur 19,87 tahun. Pemantauan kadar hematokrit secara berkala penting dilakukan untuk mendeteksi dini risiko perburukan kondisi pasien DBD, khususnya pada fase kritis.</p> 2026-01-29T06:24:23+07:00 Copyright (c) 2025 Journal of Health Analysis Student (JHAS) http://148.230.97.38/index.php/jhas/article/view/2557 GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN VCT PADA PASIEN BERISIKO TERTULAR HIV 2026-04-10T10:54:17+07:00 Rifan Ardiansyah Ardiansyahrifan085@gmail.com Ramdhan Gunawan lppm@piksi.ac.id Agus Sudrajat manlab25@gmail.com <p><em>Human Immunodeficiency Virus </em>(HIV) dan <em>Acquired Immunodeficiency Syndrome </em>(AIDS) merupakan masalah kesehatan global yang masih menjadi tantangan, termasuk di Indonesia. Layanan <em>Voluntary Counseling and Testing </em>(VCT) berperan penting dalam deteksi dini HIV, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan hasil pemeriksaan VCT pada pasien berisiko tinggi tertular HIV di Rumah Sakit Tingkat II Dustira Cimahi selama periode November 2024 hingga April 2025. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan data sekunder dari hasil pemeriksaan VCT terhadap 50 pasien, jumlah seimbang antara laki-laki dan perempuan (masing-masing 25 orang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 46% pasien dinyatakan positif HIV, dengan proporsi 44% pada laki-laki dan 48% pada perempuan. Hasil ini menunjukan bahwa risiko penularan HIV tidak hanya dominan pada satu jenis kelamin. Oleh karena itu, optimalisasi layanan VCT, edukasi masyarakat, serta integrasi pemeriksaan HIV dalam layanan kesehatan rutin sangat diperlukan untuk menekan laju penularan. Penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi program preventif HIV/AIDS di fasilitas kesehatan serupa.</p> 2026-01-29T06:27:56+07:00 Copyright (c) 2025 Journal of Health Analysis Student (JHAS) http://148.230.97.38/index.php/jhas/article/view/2559 PENGARUH SENAM AEROBIK TERHADAP PERUBAHAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA WANITA DEWASA 2026-01-29T13:14:02+07:00 Agus Sudrajat manlab25@gmail.com Fatma Audi Andriani fatmaaudiandriani@gmail.com <p>Kebugaran jasmani merupakan hal yang sangat diinginkan semua orang karena berperan penting dalam mendukung produktivitas kerja, misalnya dengan melakukan senam aerobik. Untuk mengetahui efek senam aerobik dapat dilakukan perbandingan kadar gula darah sebelum dan sesudah senam dengan menerapkan desain pre-eksperimental <em>One-Group Pretest-Posttest. </em>Dari hasil perbandingan, didapatkan penurunan rata-rata kadar gula darah sebesar 2,23 mg/dL, artinya temuan tersebut signifikan secara statistik (p &lt; 0,05). Temuan ini mendukung bahwa senam aerobik yang dilakukan secara rutin, selalu menjaga pola hidup sehat, edukasi berkelanjutan mengenai pentingnya aktivitas fisik dan deteksi dini diabetes dapat menjadi strategi preventif yang efektif dalam pengelolaan kadar gula darah dan pencegahan diabetes melitus.</p> 2026-01-29T06:31:49+07:00 Copyright (c) 2025 Journal of Health Analysis Student (JHAS) http://148.230.97.38/index.php/jhas/article/view/2560 GAMBARAN JUMLAH LEUKOSIT PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS DI RUMAH SAKIT BANDUNG 2026-02-25T05:20:58+07:00 Edi Suharto ahmadmoh509@gmail.com Muhammad Agil Chaerudin ahmadmoh509@gmail.com Agus Sudrajat manlab25@gmail.com <p>Gagal Ginjal Kronis (PGK) merupakan penurunan fungsi ginjal progresif yang menjadi isu kesehatan dunia. Leukosit memiliki peran utama dalam tanggapan imun dan sering kali menggambarkan adanya peradangan yang sering menyertai PGK, sehingga pemantauan kadar leukosit penting dilakukan untuk mendeteksi infeksi atau peradangan yang dapat memengaruhi prognosis penyakit. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kadar leukosit pada pasien PGK di Rumah Sakit X, Bandung. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional pada 32 pasien PGK yang menjalani perawatan pada bulan April–Mei 2025. Data kadar leukosit didapatkan dari hasil pemeriksaan Hematology Analyzer di laboratorium rumah sakit dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar leukosit pada pasien perempuan (8,5 × 10³ sel/µL) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (6,7 × 10³ sel/µL). Disimpulkan bahwa mayoritas pasien PGK di Rumah Sakit X memiliki kadar leukosit dalam batas normal, namun pasien perempuan cenderung memiliki kadar leukosit lebih tinggi dibandingkan laki-laki, serta adanya kasus leukositosis yang mengindikasikan potensi peradangan atau infeksi.</p> 2026-01-29T06:34:51+07:00 Copyright (c) 2025 Journal of Health Analysis Student (JHAS)